Jumat, 10 Februari 2017



            KEONG TANPA CANGKANG
                               
                        Sebuah cerita asal-asalan
                 Diketik dari tangan seorang bodoh “Teja Aulia

Patah hati adalah panggilan untuk ku agar lebih sering lagi memandang langit senja,mungkin aku harus mendengarkan music lebih banyak lagi sekarang,memasang headset darimu dan memutar semua lagu yang mengingatkanku padamu. Suasana yang indah,lagu yang indah,untuk orang terindah.
Jauh sebelum ranting ini patah,aku pernah menjadi sebuah dahan yang kuat,bersama daun rimbun dan sejuknya angin,dengan kata lain aku pernah bahagia.

Di suatu senja,di suatu hening sekali di ruang lepas,aku mencoba sesekali menendang2 batu,menggores-gores tanah dengan ranting,dengan tangan gemetar dan pikiran yang abstrak tepat di depan mu. Mencoba sesekali  menyatukan kata-kata yang tadinya sudah kurangkai dengan sempurna saat aku di kamar,untuk kusampaikan padamu. Kupukir aku gugup,dan aku benar.
Setengah jam berlalu,batupun sudah jauh kutendang,tanahpun sudah tak ada ruang lagi utk ku gores,dan kata kata pun masih belum kembali ke imaji. Sampai akhirnya akupun berfikir bahwa aku harus berkata layaknya angin satu kali hembusan,apa adanya. Entah menyejukan atau tidak, yang penting apa adanya. 
Kumulai berbicara, dik! Ada dua hal yang ingin kukatakan, yang pertama, aku akan pindah ke kota lain untuk waktu yang lama,dengan kemungkinan akan jarang kembali,namun disisi lain aku tak ingin meninggalkan sebuah alasaan kenapa akubangun tadi pagi dan bernafas setiap hari. Aku nggak ingin ninggalin kamu,aku tak ingin ini sia sia,aku ngin sebuah ikatan agar ini tak berujung  hampa. ”dik! Kita main benteng yuk ? kok main benteng? Jawabnya, atau kita main basket aja? Kita kan Cuma berdua bola juga ga adaa jawabnya, atau kita main sepak bola aja ? kok jadi main bola? Sebenarnya mau bilang apa sih? Dia mulai heran, atau kita pacaran aja? Kamu mau jadi pacarku  kan ? dalam fikiranku berkata (haha, not bad. Modus pemula).
Dengan tawa kecil, pipi yang merah karna malu dan beberapa ekspresi yang masih kuingat hingga detik akhir saat aku akan tertidur tanpa berharap lagi untuk bermimpi,kau menganggukan kepala sambil tersenyum. Aku berkata”bukan gerakanmu yang aku ingin,tapi jawaban mu dengan suaraa yang aku inginkan”. Dan akhirnya ia berkata “iya” dengan lembut.  Tepat di sana,di kata itu,aku merasakan kebahagiaan luar biasa,dalam hatiku berkata “kumohon jangan pingsan”.
  
                                               KUDAPATKAN CANGKANG KU
Pagi ini adalah awal dari tahun terbaik yang kunantikan,sejak saku masih berpasir dan pipi masih berdebu. Tahun ini adalah tahun tualang,dimana aku harus pergi jauh untuk mencari jati diriku, meninggalkan apa yang telah kubangun di tempat ini,meninggalkan teman lama,kebiasaan lama dan cinta yang lama.
Awal tualangku dimulai dari sebuah panggilan untuk berpindah kota. Aku akan pikirkan tentang panggilan ini. Disuatu pagi,dalam hening kupikirkan lagi kebimbangan ini. Keputusanku akhirnya datang juga,yaitu menyerah kan semua pada jawabanya. Jika dia berkata “ya” maka aku akan pergi dengan beberapa tas,ilmu,inspirasi,dan hati yang kubawa. Namun jika jawabnya “tidak” maka aku akan pergi dengan beberapa tas saja.
 Pagi ini menjelang siang,setelah kopi dan sarapan,mulai kurangkai beberapa kata sesempurna dan sebermakna mungkin untuk sebuah jawaban yang masih buram.
Hingga pada suatu senja di suatu hening sekali……………………..

                                          
nama saya teja aulia,seorang anak yang menghabiskan hari dengan tidur panjang,seorang anak yang terperangkap dalam ,mimpi dan fantasi.
setelah cangkang ku retak,aku punya pandangan lain tentang hidup. bagiku hidup adalah berlari dalam imajinasi sebelum tidur.