KEONG
TANPA CANGKANG
Sebuah cerita asal-asalan
Diketik dari tangan seorang bodoh “Teja Aulia”
Patah hati adalah panggilan untuk ku agar lebih sering lagi
memandang langit senja,mungkin aku harus mendengarkan music lebih banyak lagi
sekarang,memasang headset darimu dan memutar semua lagu yang mengingatkanku
padamu. Suasana yang indah,lagu yang indah,untuk orang terindah.
Jauh sebelum ranting ini patah,aku pernah menjadi sebuah dahan
yang kuat,bersama daun rimbun dan sejuknya angin,dengan kata lain aku pernah
bahagia.
Di suatu senja,di suatu hening sekali di ruang lepas,aku
mencoba sesekali menendang2 batu,menggores-gores tanah dengan ranting,dengan
tangan gemetar dan pikiran yang abstrak tepat di depan mu. Mencoba sesekali menyatukan kata-kata yang tadinya sudah
kurangkai dengan sempurna saat aku di kamar,untuk kusampaikan padamu. Kupukir
aku gugup,dan aku benar.
Setengah jam berlalu,batupun sudah jauh kutendang,tanahpun
sudah tak ada ruang lagi utk ku gores,dan kata kata pun masih belum kembali ke
imaji. Sampai akhirnya akupun berfikir bahwa aku harus berkata layaknya angin
satu kali hembusan,apa adanya. Entah menyejukan atau tidak, yang penting apa
adanya.
Kumulai berbicara, dik! Ada dua hal yang ingin kukatakan,
yang pertama, aku akan pindah ke kota lain untuk waktu yang lama,dengan
kemungkinan akan jarang kembali,namun disisi lain aku tak ingin meninggalkan
sebuah alasaan kenapa akubangun tadi pagi dan bernafas setiap hari. Aku nggak
ingin ninggalin kamu,aku tak ingin ini sia sia,aku ngin sebuah ikatan agar ini
tak berujung hampa. ”dik! Kita main
benteng yuk ? kok main benteng? Jawabnya, atau kita main basket aja? Kita kan
Cuma berdua bola juga ga adaa jawabnya, atau kita main sepak bola aja ? kok
jadi main bola? Sebenarnya mau bilang apa sih? Dia mulai heran, atau kita
pacaran aja? Kamu mau jadi pacarku kan ?
dalam fikiranku berkata (haha, not bad. Modus pemula).
Dengan tawa kecil, pipi yang merah karna malu dan beberapa
ekspresi yang masih kuingat hingga detik akhir saat aku akan tertidur tanpa
berharap lagi untuk bermimpi,kau menganggukan kepala sambil tersenyum. Aku
berkata”bukan gerakanmu yang aku ingin,tapi jawaban mu dengan suaraa yang aku
inginkan”. Dan akhirnya ia berkata “iya” dengan lembut. Tepat di sana,di kata itu,aku merasakan
kebahagiaan luar biasa,dalam hatiku berkata “kumohon jangan pingsan”.
KUDAPATKAN CANGKANG KU
Pagi ini adalah awal dari tahun terbaik yang kunantikan,sejak
saku masih berpasir dan pipi masih berdebu. Tahun ini adalah tahun
tualang,dimana aku harus pergi jauh untuk mencari jati diriku, meninggalkan apa
yang telah kubangun di tempat ini,meninggalkan teman lama,kebiasaan lama dan
cinta yang lama.
Awal tualangku dimulai dari sebuah panggilan untuk berpindah
kota. Aku akan pikirkan tentang panggilan ini. Disuatu pagi,dalam hening
kupikirkan lagi kebimbangan ini. Keputusanku akhirnya datang juga,yaitu
menyerah kan semua pada jawabanya. Jika dia berkata “ya” maka aku akan pergi
dengan beberapa tas,ilmu,inspirasi,dan hati yang kubawa. Namun jika jawabnya
“tidak” maka aku akan pergi dengan beberapa tas saja.
Pagi ini menjelang
siang,setelah kopi dan sarapan,mulai kurangkai beberapa kata sesempurna dan
sebermakna mungkin untuk sebuah jawaban yang masih buram.
Hingga pada suatu senja di suatu hening sekali……………………..
nama saya teja aulia,seorang anak yang menghabiskan hari dengan tidur panjang,seorang anak yang terperangkap dalam ,mimpi dan fantasi.
setelah cangkang ku retak,aku punya pandangan lain tentang hidup. bagiku hidup adalah berlari dalam imajinasi sebelum tidur.